Suatu hari, ada sebuah tunas kecil yang tumbuh di dekat
pohon induknya. Mereka sedang menikmati sinar hangat mentari pagi.
"Ibu, apakah aku kelak akan besar seperti Ibu?",
tanya si Tunas Kecil pada ibunya.
"Iya, Anakku. Kau akan tumbuh besar seperti Ibu.
Berbunga, dan berbuah...", jawab sang Ibu sambil tersenyum.
"Tapi Ibu, apakah tumbuh itu menyenangkan? Tumbuh itu
lama, membosankan! Harus betah sama banyak musim. Kena panas, kena
hujan...!" ujar si Kecil cemberut.
Sang Ibu tetap diam, menunggu anaknya meneruskan...
"Capek kan, Bu....", rajuk si Tunas Kecil.
"Hmm..., terus?" tanya Ibunya masih menunggu
ujaran kalimat dari anaknya.
Si Tunas Kecil terdiam sesaat. Ia masih menimbang-nimbang
tentang masa tumbuhnya nanti. Ia manggut-manggut, kadang menggeleng-geleng.
Sang Ibu hanya tersenyum memperhatikannya.
"Hmm...? Kok malah diam?" pancing Ibunya.
"Tapi Bu, kalau sudah besar itu menyenangkan ya? Banyak
manfaatnya buat orang-orang sekitar. Ibu bisa jadi tempat berteduh, buahnya
manis, bisa jadi tempat hidup burung-burung.... Eh, Ibu juga bisa jadi tempat
mainan anak-anak! Tuh, ada yang masang ayunan di dahan. Buat panjat-panjatan
juga... Seneng ya, Bu!" celoteh si
Tunas Kecil lancar.
Sang Ibu masih tersenyum. Belum sempat ia menjawab, si Tunas
Kecil sudah melanjutkan,
"Tapi, kalau Ibu sebesar ini, apa Ibu tak takut dengan
badai...?"
Masih dengan senyumnya sang Ibu menjawab kegalauan anaknya. Dengan
bertanya pula, "Nak..., bila kau sebesar Ibu, lalu ada
angin topan yang besar, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan tumbang,
atau kau tetap tegak berdiri?"
"Tentu saja tegak berdiri lah, Bu! Aku kan ingin tetap
hidup dan bermanfaat bagi sesama," jawab si Tunas Kecil dengan tegas dan
lancar.
"Hmm... Benarkah?"
"Iya, Buu... Aku ingin tetap berdiri...", jawab si
Kecil lagi seakan memberi pengertian pada Ibunya, ingin meyakinkannya.
"Nah, begitulah Nak bila kau ingin tumbuh.
Banyak hal yang harus
kau lewati. Kau akan berakrab-akrab dengan sinar mentari pagi yang hangat, yang
siangnya bergeser menyengat, dan malamnya hilang tinggal dingin yang
menggigil...
Kau akan akrab dengan guyuran hujan yang deras, atau gerimis
satu-satu yang sering membuatmu dahaga. Kau harus sabar dengan itu semua,
Nak...
Bila saatnya nanti kau tumbuh besar, kau akan berbunga, dan berbuah...
Jangan pernah bakhil untuk memberikan buah yang manis. Bukan seberapa sulit kau
menghasilkan buah yang manis, tapi seberapa banyak orang yang suka dengan buah
manismu. Berapa banyak yang kemudian membutuhkanmu dan membuatmu menjadi
bermakna... Itulah sesungguhnya makna kehidupan, Nak.
Jadilah engkau pohon yang rindang dan berbuah lebat. Yang
buahnya manis, tak henti berbuah sepanjang musim. Yang akarnya menghunjam kuat
ke dasar bumi. Yang dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit, tegak berdiri!
Jadilah kau pohon yang baik." ucap sang Ibu panjang lebar. Ia ingin
memberikan nasihat terbaik untuk anaknya.
Tiba-tiba angin bertiup halus, gumpalan awan perlahan
menutupi sinar mentari. Hembusan kecil itu membawa aroma hujan. Awan gelap
memayung. Tak berselang lama gerimis turun. Rintik-rintik kecilnya membasahi
bumi, merebakkan harum aroma tanah...
Si Tunas Kecil bersorak senang sambil memandang ke atas
menyambut sang Hujan.
"Ibu, aku akan tumbuh besar!", ujarnya riang.
Sang Ibu tersenyum. "Iya, Nak... Kau akan tumbuh
besar," bisiknya dalam hati.
Wonogiri, 15 Oktober
2013